SEKSI BINA KESEHATAN HEWAN KABUPATEN SAROLANGUN

Tuesday, September 3, 2024

Optimalisasi Peningkatan Kinerja Pelayanan Kesehatan Hewan Melalui Pembentukan Kader Vaksinasi di Dinas Peternakan dan Perikanan

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun melakukan aksi perubahan dalam Optimalisasi Peningkatan Kinerja Pelayanan Kesehatan Hewan Melalui Pembentukan Kader Vaksinasi.  Yang melatar belakangi aksi perubahan ini adalah dikarenakan di Kabupaten Sarolangun masih terjadi kasus kematian ternak akibat penyakit Septicaemia epizootica atau yang sering dikenal dengan penyakit ngorok serta sumber daya manusia kesehatan hewan seperti dokter hewan dan para medik veteriner jumlah nya terbatas sehingga menjadi permasalahan yang harus segera dicarikan solusinya.  

Untuk mengatasi permasalahan tersebut Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun melakukan aksi perubahan dengan melatih kader vaksinasi yang berasal dari peternak.  Adapun manfaat dari aksi perubahan ini adalah:

1.  Mengatasi kurangnya Sumber Daya Manusia pelaksana vaksinasi ternak

2.  Menurunkan angka kematian ternak terutama karena penyakit SE

3. Meningkatnya Populasi Ternak

4. Memudahkan menggali informasi tentang kesehatan hewan dan peternakan serta

5. tercapainya kesejahteraan peternak di Kabupaten Sarolangun.

Dalam pelaksanaannya aksi perubahan ini di dukung oleh petugas penyuluh lapangan (PPL) di tiap desa serta aksi perubahan ini juga mendapat dukungan dari Kasat Binmas Polres Sarolangun yang siap membantu dan mensosialisasikan aksi perubahan ini.   sehingga diharapkan ternaak di Kabupaten Sarolangun Kebal terhadap penyakit khususnya penyakit SE.

 

                              Koordinasi Aksi Perubahan dengan Kasat Binmas Polres Sarolangun


                     Dukungan Polres Sarolangun dalam Pendampingan Kegiatan Vaksinasi Ternak

                                                            Pelaksanaan Vaksinasi SE 

                                     Sosialisasi dan Pelatihan Kader Vaksinasi di Kelompok Tani


 


Tuesday, June 21, 2022

 Penyakit Mulut Dan Kuku di Kabupaten Sarolangun


Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)  atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) dan Apthtae Epizooticae merupakan penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan oleh virus (family Picornaviridae).  Gejala awal akut yaitu hipersalivasi (saliva berlebih), demam, dan nafsu makan menurun. Kalau gejala sudah kronis akan terbentuk lepuh dan erosi pada mulut, lidah dan kaki serta terjadi kepincangan.  

Di Kabupaten Sarolangun, Penyakit mulut dan kuku diketahui berdasarkan hasil laboratorium pada tanggal 31 mei 2022 di Desa Siliwangi Kecamatan Singkut.  Sampai tanggal 19 Juni 2022 telah menyebar ke empat desa di tiga kecamatan yaitu Desa Siliwangi dan Desa Payolebar di Kecamatan Singkut, Desa Pelawan Jaya di Kecamatan Pelawan dan Kelurahan Sukasari di Kecamatan Sarolangun.   

Adapun ternak yang terdampak PMK sebanyak 36 ekor di Kec Singkut, 19 ekor di Kecamatan Sarolangun dan 8 ekor di Kecamatan Pelawan.

Lesi di daerah Bibir Sapi yang terkena PMK
Pengambilan Sampel Ternak yang dicurigai PMK
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Turun Langsung memeriksa Ternak yang dicurigai PMK
Pemberian Obat Ke dalam Mulut Ternak yang Positif PMK
Pemberian KIE Kepada Peternak Oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kab Sarolangun beserta Tim dari Polres Sarolangun
Berkenaan dengan telah tertularnya Kab Sarolangun oleh Penyakit Mulut dan Kuku, Dinas Peternakan dan Perikanan menghimbau kepada peternak dan pedagang :
  1. Jangan memasukan ternak dari daerah wabah PMK serta mengeluarkan ternak dari daerah wabah PMK
  2. Jangan Panik karena Penyakit PMK bisa diobati dan tidak menular ke manusia
  3. Laporkan segera apabila menemukan ternak dengan ciri ciri Hipersalivasi (air liur banyak) ternak tidak mau makan, demam dan ada kepincangan.
  4. Apabila melakukan pembelian ternak baru periksakan terlebih dahulu ke dokter hewan dengan disertai surat Keterangan Kesehatan Hewan dari dokter hewan berwenang.






Tuesday, November 2, 2021

Bupati Sarolangun Panen Ikan Lele di Kecamatan Mandiangin

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan beserta Sekertaris Dinas Peternakan dan perikanan Kabupaten Sarolangun mendampingi Bapak Bupati Sarolangun dalam rangka Panen Perdana Ikan Lele di Kecamatan Mandiangin Timur. Ikan lele yang dipanen tersebut saat di tebar berukuran 5-8 cm dengan jumlah 1000 ekor dan setelah berumur 2 bulan ikan lele tersebut dipanen dengan produksi 100 kg. mengingat pertumbuhan dan hasil yang sangat bagus maka selanjutnya kolam kembali disiapkan untuk tebar bibit ikan lele kembali.

Saturday, October 30, 2021

Kadis Nakkan Belum Genap Sebulan Pasca Dilantik Sudah Membuat Gebrakan

Tiga belas hari kerja pasca dilantik menjadi Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun, Dulmuin, SP langsung memimpin pelayanan kesehatan hewan terpadu di Kelompok Tani Renah Mutu Desa Tanjung Kecamatan Bathin VIII.  Adapun populasi ternak sapi bali di kelompok tani renah mutu berjumlah 41 ekor. Dari 41 ekor tersebut sebanyak 23 ekor merupakan ternak bantuan program Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) tahun 2015 yang telah berkembang dari semula hanya berjumlah  9 ekor dan sekarang berjumlah 23 ekor.  sedangkan ternak sisanya adalah ternak pribadi masyarakat yang tergabung dengan kelompok tani renah mutu.

Pelayanan tersebut dilaksanakan oleh Bidang Kesehatan Hewan, Kesmavet dan P2HP yang terdiri dari 4 orang dokter hewan, 1 orang paramedis dan 1 orang petugas Inseminator.  Secara teknis pelayanan kesehatan hewan yang dilaksanakan pada kegiatan kali ini adalah melakukan pemberian obat cacing albendazole sebanyak 12 ekor, pengobatan thelaziasis sebanyak 5 ekor, pemberian multivitamin sebanyak 41 ekor, pemeriksaan kebuntingan secara perektal  sebanyak 5 ekor dengan hasil 2 ekor positif (umur kebuntingan 4 bulan dan 7 bulan) dan 3 ekor negatif / tidak bunting, serta melakukan Inseminasi Buatan pada satu ekor ternak sapi.

Pentingnya pemberian obat cacing dan multivitamin adalah untuk mengoptimalkan pertumbuhan sehingga ternak sapi dapat berkembang dengan baik. Adapun kegiatan Pemeriksaan Kebuntingan bertujuan untuk mendeteksi keberhasilan IB atau Kawin alam secara dini sehingga apabila ternak yang diperiksa tidak bunting peternak dapat langsung mengawinkan ternaknya kembali pada siklus birahi berikutnya. Sedangkan inseminasi buatan dilakukan untuk meningkatkan kualitas keturunan ternak sapi.

kegiatan seperti ini direncanakan akan dilakukan di seluruh kelompok tani ternak ruminansia yang di kabupaten sarolangun secara rutin setiap tahunnya.

Foto bersama tim Keswan dan Kesmavet dengan peternak kelompok tani renah mutu desa tanjung 

pemberian obat cacing oleh Bapak Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan

Penyuntikan Vitamin Oleh Bapak Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan

Sunday, September 20, 2015

PEMERIKSAAN TERNAK KURBAN

Dinas Perikanan dan Peternakan akan menggelar kegiatan rutin setiap tahunnya yaitu melakukan pemeriksaan hewan kurban. Pemeriksaan ini dilakukan di beberapa titik penjualan ternak sapi, kerbau dan kambing yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Sarolangun.  Selain di pedagang ternak kurban, pemeriksaan ini juga dilakukan langsung ke kelompok tani ternak yang menyediakan ternak kurban.

Mengatasi kurangnya tenaga medik dan paramedik veteriner yang menguasai pemeriksaan kesehatan hewan, dinas Perikanan dan Peternakan telah melakukan pelatihan fungsional pemotongan ternak kurban yang pesertanya adalah juru sembelih hewan kurban di Kecamatan Sarolangun. Kedepannya diharapkan peserta pelatihan ini lah yang menjadi perpanjangan Dinas dalam melakukan penyeleksian ternak yang akan dipotong.

Pemeriksaan akan dilakukan dua kali yaitu terhadap ternak sebelum dipotong  (Ante Mortem) dan ternak setelah dipotong (Post Mortem). Pemeriksaan ante mortem meliputi pemeriksaan fisik apakah ternak tersebut sehat atau tidak, pemeriksaan penyakit menular dan pemeriksaan kecukupan umur ternak sebagai salah satu syarat syahnya kurban. Sedangkan pemeriksaan post mortem dilakukan terhadap ternak yang telah dipotong meliputi kesehatan daging dan jeroan dari penyakit zoonosis (penyakit yang menular ke manusia).

Sehingga dengan adanya kegiatan ini masyarakat di Kabupaten Sarolangun tentram bathin karena daging kurban yang mereka konsumsi adalah daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).

Thursday, September 12, 2013

176 ekor Ternak Kerbau di Vaksinasi

Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Perikanan dan Peternakan telah melakukan Vaksinasi terhadap 176 ekor ternak kerbau di Kelurahan Dusun Sarolangun.  Cakupan tersebut sudah memenuhi standart capaian vaksinasi yaitu sebesar 73 persen dari populasi ternak kerbau (248 ekor) di padang penggembalaan Renah Ketapang.

Adapun padang penggembalaan yang terdapat di Kelurahan Dusun Sarolangun selain padang penggembalaan Renah Ketapang masih terdapat 4 padang penggembalaan lagi yang akan dilakukan vaksinasi yaitu padang penggembalaan Danau Ketapang, Pematang Sekumbang dan Rawang Tengah. Vaksinasi selanjutnya akan dilakukan pada hari jumat 13 September 2013.

Vaksinasi ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kekebalan ternak kerbau terhadap penyakit SE atau yang sering dikenal dengan penyakit "NGOROK". Penyakit ini pada tahun 2012 telah menyebabkan kerugian yang dialami peternak se Kabupaten Sarolangun sebesar Rp. 1.289.000.000,-  Asumsi kerugian tersebut diperoleh dari perhitungan kematian ternak sebanyak 125 ekor, Ternak yang dipotong paksa karena sakit sebanyak 112 ekor dan Biaya pengobatan terhadap ternak sebanyak 440 ekor.

Mengenal Penyakit Septicaemia Epizootica  (SE) / Ngorok.

Penyakit Septicaemia Epizootica (SE) atau penyakit ngorok adalah penyakit hewan yang bersifat akut, fatal dan pada dasarnya hanya menyerang hewan kerbau dan sapi. Penyakit SE disebabkan oleh Pasteurella multocida.

Faktor-faktor predisposisi , seperti : kelelahan, kedinginan, pengangkutan, anemia dan sebagainya mempermudah timbulnya penyakit. Diduga pintu gerbang infeksi bakteri ke dalam tubuh penderita adalah daerah tenggorokan. Ternak sehat akan tertular oleh ternak sakit atau pembawa melalui kontak atau melalui makanan, minuman dan alat-alat yang tercemar bakteri . Ekskreta ternak penderita (ludah, kemih, dan tinja) juga mengandung bakteri Pasteurella multocida.
 
Bakteri yang jatuh di tanah apabila keadaan sesuai untuk pertumbuhan bakteri (lembab, hangat, teduh), maka bakteri tersebut akan tahan kurang lebih satu minggu dan tentunya dapat menulari ternak-ternak yang digembalakan di tempat tersebut. 
 
Ternak yang menderita penyakit SE harus diisolasi pada tempat yang terpisah. Apabila ternak tersebut mati ataupun dapat sembuh kembali, kandang dan peralatan yang digunakan untuk perawatan sapi itu harus dihapushamakan. Selain itu selama 2 minggu jangan gunakan kandang dan peralatan untuk memelihara ternak.
  
Gejala Klinis
 
Penyakit SE dikenal dengan tiga bentuk, yaitu bentuk busung, pektoral dan intestinal. 
 
Pada bentuk busung ditemukan adanya busung pada kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang-kadang pada kaki muka. Tidak jarang pula dubur dan alat kelamin juga mengalami busung. Derajat kematian bentuk ini tinggi, sampai 90% dan berlangsung cepat, hanya 3 hari, kadang-kadang sampai 1 minggu. Sebelum mati, terutama pada kerbau gangguan pernafasan akan nampak sebagai sesak nafas (dyspnoe) dan suara ngorok, merintih dengan gigi gemeretak. 
 
Pada bentuk pektoral, tanda-tanda bronchopneumonia lebih menonjol, yang dimulai dengan batuk kering dan nyeri, yang kemudian diikuti dengan keluarnya ingus hidung, pernafasan cepat dan susah. Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung lebih lama, yaitu antara 1 – 3 minggu. Kadang-kadang penyakit dapat berjalan kronis, ternak menjadi kurus dan sering batuk, napsu makan terganggu, terus menerus mengeluarkan air mata. Suhu tidak berubah, tetapi terjadi mencret degil (sulit disembuhkan) yang bercampur darah.

Bentuk campuran (Intestinal) dari kedua bentuk diatas dan ditandai gastroenteritis kataralis hingga hemoragik.
 
Pencegahan
Untuk daerah tertular seperti Kabupaten Sarolangun maka ternak-ternak sehat harus divaksin dengan vaksin SE, miniumal setahun sekali.  Vaksinasi ini dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit / ternak dalam keadaan sehat.
 
Pengobatan
        Pada ternak tersangka sakit dapat dipilih salah satu dari perlakuan penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan, penyuntikan antibiotika, penyuntikan kemoterapetika, kombinasi penyuntikan antiserum dengan antibiotika atau kombinasi antiserum dengan kemoterapetika. 

Perlakuan pemotongan hewan dan daging
Dengan pertimbangan bahwa:
  • SE tidak berbahaya untuk konsumsi manusia
  • Hampir seluruh Kabupaten Sarolangun adalah daerah tertular SE, 
  • maka hewan berpenyakit SE tidak dilarang untuk dipotong, sesuai dengan peraturan yang berlaku




Wednesday, September 4, 2013

MENGENAL DEMAM TIGA HARI



PENYAKIT
DEMAM TIGA HARI
(BOVINE EPHEMERAL FEVER/BEF)
(THREE DAY SICKNESS)












PEMERINTAH KABUPATEN SAROLANGUN
DINAS PERIKANAN DAN PETERNAKAN
KOMPLEK PERKANTORAN GUNUNG KEMBANG
Email : keswansarolangun@yahoo.co.id
SAROLANGUN




1.    PENGERTIAN
Penyakit Demam Tiga Hari/BEF/Three Day Sickness adalah suatu penyakit viral pada sapi dan kerbau yang ditandai dengan terjadinya demam tinggi, rasa sakit pada otot, dan kepincangan. Ternak yang menderita sakit ini bisa cepat sembuh bila tanpa komplikasi. Penyakit ini tersebar di banyak daerah tropis dan sub-tropis. Di sebagian daerah di Jambi penyakit ini di namakan Penyakit Tingkek.

2.    PENYEBAB
Virus BEF adalah anggota dari sebuah genus yang termasuk dalam keluarga Rhabdoviridae dari virus RNA.

3.    PENULARAN
Demam Tiga Hari disebarkan oleh lalat penghisap darah  Cullicoides sp dan nyamuk Cullex sp. Ada dugaan penyebaran dapat pula terjadi melalui angin.

4.    GEJALA KLINIS
Hampir setiap infeksi adalah sub klinis atau sub akut dan sedikit yang akut. Masa tunas penyakit ini secara alami tidak diketahui.
Gejala penyakit antara lain adalah demam tinggi yang mendadak, dungu, keluar cairan dari hidung, pembesaran kelenjar getah bening, kurang nafsu makan, kekakluan otot, dan kepincangan. Hewan sangat lemah dan lebih banyak terbaring, hanya mampu berdiri bila dipancing untuk melakukannya.
Hewan dewasa lebih menderita daripada hewan muda. Angka kesakitan tinggi tetapi angka kematian sangat rendah. Kebanyakan  ternak akan sembuh dengan sendirinya setelah 2-3 hari. Bila terjadi komplikasi,  ternak buntging dapat abortus/gugur.

5.    DIAGNOSA BANDING
Penyakit BEF harus dibedakan dengan penyakit Ngorok, penyakit Ingusan/MCF dan Mucosal Disease.

6.    PENGENDALIAN dan PENGOBATAN
Pengobatan terhadap ternak yang menderita penyakit ini dilakukan dengan memberikan obat simtomatik dan pencegahan terhadap timbulnya infeksi sekunder. Vaksin yang efektif belum ada.

7. PENCEGAHAN 
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan penyemprotan insektisida untuk mengurangi populasi vektor lalat Cullicoides sp dan nyamuk Cullex sp.

8.    KEJADIAN DI INDONESIA
Penyakit ini tersebar luas diberbagai daerah di Indonesia. Secara umum tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, asalkan segera mendapatkan pertolongan medis yang memadai sehingga tidak terjadi komplikasi dengan penyakit lain.

9.    PEMOTONGAN HEWAN
Ternak yang menderita penyakit BEF dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi atau diperdagangkan. Namun mengingat angka kematian relative sangat rendah maka sebaiknya pemotongan hanya dilakukan pada keadaan yang sangat terpaksa ditinjau dari segi medis dan atas anjuran dokter hewan. Sisa pemotongan beserta sisa pakan yang masih tertinggal harus dibakar dan dikubur dalam-dalam. Tempat pemotongan dibersihkan dan dibebashamakan.

Untuk keperluan konsultasi dan komunikasi lebih lanjut dapat menghubungi kontak person :

a)  Drh. Endang Supardi Hp. 081274268342
     (Kabid Keswan Kesmavet di Sarolangun)
b)  Drh. Riki Prayitno      Hp. 081328618283
     (Puskeswan Mandiangin di Mandiangin)
c)  Drh. Iwan Kustiawan   Hp. 085380619678
     (Puskeswan Singkut di Singkut)
d)  Ari Rumekso, S.Kh  Hp. 081366546015
     (Puskeswan Air Hitam di Pmtg Kabau)


TERIMA KASIH